| Welcome, dear visitors ^_^ | Jan 29, 2006 |

PAGARUYUNG: Lawatan oleh Negeri yang Runtuh
(oleh Azzura Dayana)
# 1
Adalah senyummu, wahai negeri, ketika kutukar lantunan swarna dwipa yang kuhafal, menjadi tiupan saluang di halaman Istano Pagaruyung, pada purnama tahun sekianku. Sebentar saja, tapi tertanam di bumi hatiku, hingga berdetik hari ini.
Dalam jarak pandang terhadap lumbung besar dari lantai tiga, kulukiskan di langit saujana Batusangkar itu, cerita tentang binar matamu yang serupa kemilau giok souvenir di pasar sebelah Jam Gadang. Katamu, “kalau kaucinta, kembalilah lagi ke Pagaruyung.”
# 2
Adalah tangismu, wahai negeri, ketika lautan merah memberangus istanamu, dalam purnama di tahunku yang berikut. Dan sesumbar tentang tubuh-tubuh pezina gosong yang tertemu sebagai mungkin: penyulut api amuk Tuhanmu, katamu.
Tapi kukirim doa padamu, yang menembus awan-awan hingga tiba ke bentangan jalan Sultan Alam Bagagarsyah yang memerah matanya demi memandang puing kediamannya. Sebab masih kuingat rangkulanmu yang paling hangat demi menghirup angin yang turun dari pucuk Singgalang-Merapi. Janganlah roboh, apalagi mati.
# 3
Adalah perihmu, ketika dalam purnama kesekian lagi kaubawa kabar tentang berguncangnya negerimu—bukan yang pertama—bahkan ketika istanamu belum selesai dibangun kembali. Tubuh-tubuh bukan lagi hangus, tapi menyeruak, tertimbun, terempas, dan lumat. Engkau kehilangan keramaian rakyat beserta sumringah mereka.
Kaudatangi dua negeri demi mengkaji. Lalu kautanya pada pemimpin tanah Putri Kembang Dadar, apakah tanah ini punya genggaman yang serupa engkau: “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”?
Di balikmu, kupungut berlarik kabar lain negerimu: tentang ragam perselingkuhan, pemerkosaan, dan penganiayaan yang merayap mulai kota hingga dusun. Telah terbukakah kitab azab? Bukankah pengkhianatan telah membanjiri daratan kami? Timur hingga barat kami, bukankah penuh ukiran kesalahan kami? Apakah kami hanya sedang menunggu giliran?
# 4
Adalah lelahmu, ketika kauajak aku menyeret langkah demi menemui pemimpin tanah Putri Sinar Alam. Kauhunus tanya yang sama padanya sebagai nada putus asa, apakah tanah ini juga punya genggaman yang serupa engkau: “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”? Lalu mengapa negeriku tetap terguncang?
Sabda tuan rumah itu, “Kami tak pernah bisa mengukur berapakah taatnya kami. Pun bukan berarti kami bebas dari amukNya. Ia tak pernah khilaf menghukum, kitalah yang selalu salah menghitung.”
# 5
Adalah pahitmu, ketika kaudesah padaku, “Tahukah kau? Kurasa sebelum aku datang kepada keduanya, Tuhan telah mengirim surat yang sama. Jika tidak, tak mungkin mereka menutur jawab yang serupa."
Lalu kita berdiam dalam nyeri di balik hujan. Matamu bukan lagi serupa kemilau giok Minangkabau, bukan lagi kedamaian pantai Air Maneh. Tapi sedetik menjadi serentak keberanjakanmu.
“Hendak pulangkah, Sultan?” tanyaku. “Bukankah rumahmu telah runtuh?”
“Ya, namun aku masih mengingat kata-kataku sendiri,” katamu sambil menutup dan memeluk kitabullah, “kalau kaucinta, kembalilah lagi ke Pagaruyung.”
***
Publikasi di: Harian Singgalang, Sumatra Barat, 2010

CATATAN:
- Sultan Alam Bagagarsyah: salah satu raja yang pernah memimpin Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau, nama beliau kemudian diabadikan menjadi nama jalan tempat Istana Pagayurung berdiri sekarang di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Istana ini mengalami kebakaran dahsyat di tahun 2007 lalu dan ikut diguncang gempa baru-baru ini.
- Putri Kembang Dadar: salah satu nama putri raja yang sangat legendaris di Palembang.
- Putri Sinar Alam: nama seorang putri raja di zaman dahulu dari Keratuan Pugung, provinsi Lampung.
Buku Terbaru Saya, Benny Arnas, dkk (Bening Subuh Musi)
“Nang, Abah kau ditangkap Belanda,” kata seseorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya, ketika Anang dalam perjalanan pulang. “Cepat lari sebelum mereka nangkap kau jugo .” Abah memang tak tampak di rumah dalam beberapa hari... moreThe Inspiration CINTA SANG PENJAGA TELAGA
Akhirnyaaa... novel ini selesai dicetak!! Pyuuuhhh... ^_^ Judul : Cinta Sang Penjaga Telaga Penulis : Azzura Dayana Harga: Rp. 40.000 Penerbit : Semesta, Pro-U Media, Yogyakarta Setting : Musi Rawas (Sumsel),... moreZUKHRUF KASIH
Di tengah penantian saya untuk novel CINTA SANG PENJAGA TELAGA , telah terbit novel saya yang terbaru (lagi) berjudul ZUKHRUF KASIH. Segera dapatkan di Gramedia terdekat dan toko2 buku lainnya. Tebal: 254... more| catatan azzura |
| Galeri Foto | Mar 28, 2012 |
|
|
| Agendaku | May 9, 2012 |
Launching Tahta Mahameru
| Start: | May 23, '12 1:00p |
| Location: | Gedung Teater MIPA Unsri Indralaya |
Upcoming events: | ||
| Jun 2 | - | Rakorwil FLP Sumsel |
| Jun 3 | - | Launching Tahta Mahameru |
| Teropong Bintang | Mar 5, 2012 |

Negeri 5 Menara -movie review-
Saya pasti tergoda iklan di TV tentang film ini yang menunjukkan beberapa lokasinya yang 'bening'. Jangan-jangan itulah alasan utama saya menonton film ini bersama seorang sahabat saya kemarin sore, hehehe. Film yang diangkat dari novel karya A.... more| These Tell You More! |
Untukmu, Wanita Tua Jelita
Seperti kali pertama saja aku bertemu dengannya Wanita jelita, di sudut rumah Mengatakan bahwa diriku berhati lelaki : berkemauan keras, dan teguh pada inginnya Wanita jelita, membawa anak... more| Gruppie |





























Scarecrow... Orang-orangan Sawah *** “Kau pernah melihat burung-burung pipit yang senang menghinggapi orang-orangan sawah?” pertanyaannya menghentikan langkahku. “Atau kau lebih sering melihat orang-...